Kamis, 11 November 2010

Merdeka!

untuk Ayah dalam Gugur
untuk ayahku Bung Karno
untuk Bung Tomo


lutut yang ditekuk di dada
tak akan lagi adalah kita, Ayah
hati yang di bimbang kambing
kini sudah di teguh karang

peluru
bising
roda
riak
maki

datanglah! lalu mati saja

kau gugurkan kerak kami, Ayah
lewat semangatmu yang tak ikut pergi

hanya akan ada dua surga;
di tempatku berdiri
atau di tempatmu berbaring

Kamis, 28 Oktober 2010

Mahasiswa

matahari mengintip dari jendela
aku mukaku dilulur cahaya

detak jarum sudah di atas yang seharusnya
aku bercerai dengan selimut
rambut hanya dibasahi angin

buku, pena, sepatu, dan ikatnya
aku hidup di atasnya
kita hirup kita kupas getahnya

titah tuanlah jadi santapan

agar malam tidur dapat tenang
siang, makan harus diselesaikan

Bila Kuteguk Seteguk

hei matahari
senyummu tak manis
keringatku berpuluh deras
berkeluh mengucur
berpeluh meneduh
menuduh ketidaknyamanan
menyamai di gurun
desir
pasir
semilir
turun hujan tak kunjung
mendung ikut tak hadir
desir
air
semilir
bila kuteguk seteguk
desir
desir
semilir
ingin angin
angan saja pun tak apa
ah
goyah langkah
mati arah
desir
angin
air
bila kuteguk seteguk
bila kuteguk seteguk

Senin, 27 September 2010

Simfoni

jemari yang tergesa-gesa di atas piano
setiap rinci nada
hentakan yang tiba-tiba

hidup diawali dari lembah
lalu setinggi apa jemari menyentuh awan

dihembus angin-angin biru adalah irama
hinggapi daun-daun hijau adalah karena
dialun lembut
diarak awan

aku dibirukan langit
aku diputihkan awan
aku dibelai lirih-lirih ombak

aku luruh aku larut aku buka mataku

tak ada yang lebih indah dari hidup ini
selain hidup itu sendiri

Selasa, 21 September 2010

Saya dan Bahasa Jerman

Saya selalu berpendapat bahwa bahasa Jerman adalah bahasa yang menarik. Kosakatanya yang unik dan tatabahasanya yang cukup rumit membuat saya semakin tertantang untuk mempelajari dan menguasainya.

Sejak SMA, bahasa Jerman adalah pelajaran favorit saya jika dibandingkan dua bahasa asing lainnya yang juga diajarkan di sekolah, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Hal ini lebih karena faktor guru. Guru bahasa Jerman kami adalah seorang yang muda, cantik dan sangat kreatif. Hal tersebut memberikan nilai lebih untuk pelajaran ini. Namun, bahasa Jerman tak pernah menjadi pilihan utama saya dalam seleksi masuk perguruan tinggi, baik lewat jalur PMDK maupun SNMPTN.

Bahasa Inggris adalah obsesi saya sejak saya mengenal bahasa asing. Karena itu bahasa Inggris selalu menjadi pilihan utama saya baik dalam seleksi jalur PMDK maupun SNMPTN. Bahasa Jerman bahkan tidak menjadi pilihan kedua saya dalam PMDK. Saat itu saya memilih Psikologi sebagai pilihan kedua. Baru dalam SNMPTN, saya menjadikan bahasa Jerman sebagai pilihan kedua setelah bahasa Inggris.

Cerita saya sebelum masuk jurusan bahasa Jerman bisa dibilang sedikit diwarnai keteledoran dan ketidakberuntungan. Saat akan menjalani tes PMDK bahasa Inggris, kartu peserta PMDK saya tertinggal di rumah. Sehingga saya terpaksa harus pulang kembali dan mengambil kartu peserta saya. Di kartu peserta PMDK tertulis bahwa saya harus menuju gedung D5. Tetapi saat akan memasuki gedung D5, diberitahukan bahwa lokasi tesnya adalah di gedung J9. Hal ini membuat saya terlambat untuk mengikuti tes wawancara dan sudah cukup untuk menjadi alasan bagi penjaga pintu ruangan untuk menolak saya masuk. Meski saya sudah mencobanya untuk kedua kalinya sekalipun.

Dalam SNMPTN, saya kembali tidak beruntung karena lagi-lagi Tuhan seolah menegaskan bahwa bahasa Inggris bukanlah masa depan saya. Sehingga di sinilah akhirnya saya duduk manis di hadapan para dosen, sebagai mahasiswa jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang.

Lelaki

yang lalu biarlah untuk tahu
yang nanti tak perlu kita nanti
kaki berdiri di tanah sekarang

biarlah menari-nari memanggil api
supaya air jadi punya arti
biarlah juga kerikil-kerikil tunjukkan tajamnya

muka lautan memang harus diarungi
dan dalamnya harus diselami

bila kau angkat layarmu
dan arahkan pandangmu ke depan dimana matahari terbangun
kau akan temukan takdirmu disana

Selasa, 13 Juli 2010

Kutahu Kau Akan Kembali

sehilang mentari di lautan
kutahu kau 'kan kembali

dari yang mungkin tak kuduga
entah waktu entah dimensi

karena aku masih daun di pagi hari
tak lelah aku dibalut embun